Samakah Pinjaman Online Ilegal dan Rentenir ?

Posted on

Saat seseorang terdesak kebutuhan dana dan tidak ada solusi lain, penawaran pinjaman dana online ini memang menggiurkan. Karena disamping persyaratan pengajuannya mudah juga sangat cepat pencairannya. Sehingga wajar saja jika banyak orang tanpa memikirkan resikonya langsung memutuskan untuk mengajukan pinjaman dana melalui fintech atau aplikasi pinjaman online. 

Seharusnya meskipun Anda sedang terdesak kebutuhan darurat, tetap memikirkan dampaknya jika berurusan dengan aplikasi pinjaman online atau fintech. Karena tidak hanya datang kita diambil tetapi juga bunga yang dikenakan sangat tinggi ditambah lagi jika terlambat membayar maka bersiaplah menghadapi teror dan intimidasi dari pihak peminjam. Biasanya hal itu dilakukan oleh fintech ilegal, yang tidak mengikuti arahan dan peraturan dari OJK ketika proses penagihan pada debitur.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengungkapkan bahwa keberadaan perusahaan fintech ilegal masih menjadi musuh besar yang perlu diberantas. Menurutnya, fintech ilegal sama dengan rentenir, sehingga kesadaran masyarakat akan perusahaan fintech yang resmi perlu ditingkatkan.

Untuk itu berhati-hatilah dan kenali tanda-tanda rentenir online dengan ciri-ciri sebagai berikut :

  • Fintech Ilegal Sering Mengabaikan Persyaratan

Pinjaman online memang sangat memudahkan siapapun yang sedang tertimpa kesulitan keuangan. Karena hanya mengajukan persyaratan memakai KTP saja sudah bisa mendapatkan pinjaman. Namun tahukah Anda bahwa segala kemudahan persyaratan dan proses pinjaman yang didapatkan oleh debitur ternyata juga berimbas pada tingginya bunga pinjaman serta denda keterlambatan yang lumayan tinggi.

Berbanding terbalik jika Anda mengajukan pinjaman melalui Bank, persyaratan yang ditawarkan oleh bank bisa lebih dari satu seperti NPWP, Slip Gaji, Kartu kredit dan historis Kredit (BI checking) yang bersih. Wajar saja peraturan tersebut dilakukan oleh bank, karena Bank menghindari resiko akibat kredit macet serta untuk proteksi bagi Anda yang gagal bayar. 

  • Iming-iming Bunga Rendah

Bujuk rayu pinjaman berbunga tinggi memang sangat menggiurkan siapapun, terutama yang sedang kesulitan keuangan. Mereka adalah rentenir yang pada awal bertemu akan merayu calon korbannya dengan iming-iming bunga kecil hanya sekitar 1 % saja per hari. 

Padahal jika dihitung dengan cermat bunganya sangat mencekik leher. Coba saja kita hitung kebali melalui simulasi pinjaman berikut ini : 

Kasus 1 melalui Pinjaman Oline 

Bapak Deny telah meminjam dana online sebesar Rp 3.000.000 untuk biaya operasi istrinya, bunga per hari sebesar 1 % yang jatuh tempo sampai 30 hari. Berapakah bunga yang dibebankan oleh Pak Deny  dan total seluruh pinjaman yang harus di bayarkan saat jatuh tempo?

Jawab :

Nilai pinjaman : Rp 3.000.000

Bunga per hari flat : 1 %

Tenor maksimal : 30 hari (1 bulan)

Bunga sebulan : 30 % x Rp 3.000.000 = Rp 900.000

Total pinjaman + bunga: = Rp 3.000.000 + Rp 900.000 = Rp 3.900.000

kasus 2 Pinjaman melalui Bank 

Ibu Reni mempunyai utang kepada Bank sebesar Rp 30.000.000 dan berencana meminjam KTA pada Bank dengan bunga 0,99 % dengan tenor pembayaran selama 2 tahun. Berapa bunga yang dibebankan kepada Ibu Reni serta cicilan yang harus dibayar selama  2 tahun ?

Jawaban:

Nilai pinjaman : Rp 30.000.000

Bunga per bulan flat : 0,99 %

Tenor : 24 bulan ( 2 tahun )

Bunga selama 2 tahun : 23,76 % x Rp 30.000.000 = Rp 7.128.000

Total pinjaman + bunga = Rp 37.128.000

Bisa Anda lihat perbedaannya antara pinjaman KTA dari bank dengan pinjaman online. Meskipun pinjaman Bank dikenakan biaya administrasi namun bunga yang dikenakan pada nasabah lumayan kecil, sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan bunga pinjaman online. Coba saja anda bandingkan, rentenir online membebankan 30 % per bulan sedangkan bank hanya 23,76 % selama dua tahun. Lumayan jauh kan bedanya ?

  • Tidak Transparan Mengenai Persyaratan Pinjaman

Biasanya jika Anda sedang butuh dana darurat, mencari pinjaman kesana kemari tidak berhasil, tiba -tiba datanglah seseorang yang sangat baik dan bermulut manis seolah menjadi malaikat penyelamat. Rentenir ini sangat ramah sekali di awal kali pertemuan dengan calon korbannya. Mereka merayu korbannya dengan iming-iming bunga rendah dan proses pinjaman yang tidak ribet. Begitu juga yang terjadi di pinjaman online, mereka tidak menginformasikan persyaratan yang rumit serta jumlah bunga yang harus dibayarkan. Bahkan merekaa tidak mau terbuka tentang hitungan dari seluruh dana yang telah diterimanya dan tidak transparan terhadap data-data perhitungan buku utang yang Anda minta.

Mereka para rentenir online akan mengarahkan Anda agar menginstal aplikasi dan mengisi biodata, jika disetujui kemudian dalam hitungan menit uang masuk ke rekening Anda, tidak lama masuklah notifikasi yang berisi perincian tagihan yang harus dibayar nanti saat jatuh tempo beserta bunganya, dan jangan kaget saat Anda mengajukan pinjam berjumlah 1 juta namun yang masuk ke rekening hanya 800 ribu rupiah atau 900 ribu rupiah. Mirisnya jumlah yang harus dikembalikan nanti lebih dari 1 juta, alasannya adalah plus bunga pinjaman. 

Tentu saat itu Anda menyesal dan kecewa tapi nasi sudah menjadi bubur, Anda baru tersadar ternyata mereka lintah darat, tapi sudah terlambat. Hanya tinggal berjuang untuk mencari uang agar bisa mengembalikan pinjaman tepat waktu. Biasanya setelah mendapatkan korban, rentenir berubah menjadi sosok yang misterius dan menjadi sering meneror di saat Anda telat akan membayar angsuran hutang padanya. 

  • Jeratan pinjaman berakhir teror & intimidasi

Memang rentenir bagaikan agen yang setiap saat mencari cara untuk mencari orang yang butuh uang dan kebutuhan darurat. 

Seperti yang dilakukan oleh fintech yang aplikasinya bernama Vloan, mereka menjaring calon konsumen sangat agresif yaitu dengan memasang iklan di laman pencarian Google. Dengan kata kunci “pinjaman online”, maka para peselancar Internet di Indonesia akan masuk pada situs-situs yang menjelaskan pinjaman Vloan dan terhubung ke aplikasi mereka. 

Ternyata Vloan tak hanya satu jenis, PT Vcard memasang banyak jenis pinjaman Vloan dengan nama aplikasi yang berbeda-beda yaitu Supercash, Rupiah Cash, Super Dana, Pinjaman Plus, Super Dompet, dan Super Pinjaman. Target konsumen mereka adalah wilayah Jabodetabek tampaknya berhasil, Iklannya menggiurkan bagi masyarakat yang tinggal di Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok dan Bekasi. Terutama bagi mereka yang sedang butuh uang: pinjaman online tanpa agunan, dengan iming-iming 30 menit uang cair. Syaratnya hanya mengunduh aplikasi di toko digital Android. Nasabah harus menyetujui semua aturan Vloan saat mengunduh aplikasi itu. 

Setelah klik setuju persyaratan, seluruh data nasabah di telepon selulernya akan disedot oleh aplikasi tersebut. Nasabah harus menuliskan nama sesuai Kartu tanda Penduduk (KTP), Nomor Induk Kependudukan (NIK), tanggal lahir, alamat, nomor rekening bank, pekerjaan, tanda pengenal, tempat bekerja, serta swafoto dengan memegang KTP dan lima nomor telepon darurat yang bisa dihubungi. Setelah itu uang memang cair: pinjaman kecil antara Rp 600.000 hingga Rp 1,2 juta dengan masa pengembalian 7-14 hari. 

Namun ternyata nominal uang yang diterima nasabah tidak sesuai jumlahnya seperti yang tertera dalam form pengajuan di aplikasi. Vloan memotong biaya administrasi sebesar 10-17 persen dari jumlah pinjaman. Tahapan proses peminjaman sepertinya berjalan lancar seolah tanpa masalah. Tetapi masalah akan muncul begitu uang sudah ditransfer ke rekening nasabah. Bunga 1,5 persen per hari tanpa jelas batas denda dari nominal maupun waktunya. Akibatnya, ketika nasabah telat membayar dari jangka waktu 7-14 hari, para penagih hutang mulai meneror dan mengancam secara tidak manusiawi.

Pinjaman Online Ilegal adalah Rentenir berbasis Teknologi

Agar masyarakat tidak mudah tertipu pinjaman online ilegal, lembaga terkait seperti OJK atau Otoritas Jasa Keuangan merilis daftar panjang perusahaan pinjaman online yang beroperasi di Indonesia secara ilegal. Tahun 2019 itu jauh lebih banyak dibanding jumlah aplikasi pinjaman online terlarang yang dibekukan selama 2018, yang hanya 404 perusahaan. Berbagai cara aplikasi pinjaman online menyasar calon nasabahnya, dengan akses Internet hingga pelosok dan pertumbuhan kepemilikan telepon seluler yang naik terus tiap tahun, perusahaan-perusahaan gelap itu memasarkan tawaran pinjaman melalui iklan di berbagai media dan situs resmi. 

Menurut Ketua OJK, Wimboh Santoso, rentenir itu sudah ada sejak lama. Tapi masyarakat memang merasa kehadiranya bermanfaat, misal di pasar banyak pedagang ujungnya ke rentenir. Siapa yang perlu disitu boleh minjem, nggak perlu jaminan, KTP. Pinjam Rp 100 ribu pagi, pulangin Rp 150 ribu sorenya,” tuturnya.

Namun seharusnya meski membutuhkan dana darurat, konsumen pada dasarnya juga perlu mengetahui pentingnya meminjam dana segar dari fintech yang terdaftar di OJK. “Nah rentenir ini apa yang mau disalahkan? Apa menyalahi aturan? Nggak ada yang melanggar, hanya etika yang melanggar. Nah ini sama dengan teknologi sekarang ini khususnya fintech. Mau dilarang (fintech ilegal)? Itu siapa, kita nggak tahu. Itu dunia virtual. Kita bisa tutup platform mereka paginya, sore hari buka lagi,” ujarnya.

Kerja keras OJK memang tidak bisa dianggap sepele, selama ini OJK telah menutup sejumlah akun fintech abal-abal. Tetapi seperti biasa, pihak fintech ilegal tersebut kembali membuka aplikasinya dengan nama lain, dan mirisnya oknum peminjam pun kadang memalsukan akun dan meminjam dana hingga melebihi batas pinjaman. “Satu orang bisa pinjem lebih dari 20 kali lewat online. Jadi yang nggak punya etika bukan fintechnya saja, tapi yang minjem juga nggak punya etika. Itulah fenomenanya,” ungkapnya lagi..

Kesimpulannya

Perusahaan fintech ilegal tersebut akan terus tumbuh setelah ditutup perijinannya, semasih banyak masyarakat yang mudah tergiur pinjaman yang sebenarnya mencekik leher alias rentenir online. Untuk itu pihak OJK menghimbau kepada semua pihak, baik pelaku (fintech) dan konsumen atau masyarakat,  sama-sama membangun ekosistem yang baik di industri keuangan digital sehingga keduanya dapat saling menguntungkan dan bersinergi. Agar tidak ada lagi pihak-pihak yang merasa dimanfaatkan atau dirugikan. Semoga informasi ini bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *