Efek Buruk Teror Fintech Ilegal & Imbas bagi Fintech Resmi

Posted on

Kasus teror dan intimidasi bahkan pelecehan yang mulai meresahkan, akibat bertransaksi memakai platform pinjaman online ilegal kini menjadi sorotan di masyarakat. Banyak keluhan bahkan trauma yang dirasakan oleh para penggunanya. Menurut hasil laporan masyarakat yang diterima oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, platform pinjaman online atau pinjol ini telah melanggar hukum yang ditetapkan dan tidak sesuai dengan aturan penagihan yang berlaku.

Diketahui bahwa sekitar 283 korban pinjol telah mengadukan berbagai bentuk pelanggaran hukum ke LBH Jakarta. Jika mengutip situs web resmi LBH Jakarta, ternyata kasus pinjol sudah meluas sejak Juni 2018, salah satunya adalah cara penagihan pinjaman online kepada konsumen berupa pelecehan hingga intimidasi.

Apa Saja Bentuk Teror dan Ancaman Fintech Ilegal tersebut ?

Peringatan selalu waspada, sering sekali dipublikasikan  oleh pihak terkait yaitu OJK, buat calon nasabah pinjaman online sebelum mengunduh dan pinjam uang di fintech ilegal jika tak ingin kena masalah teror dan ancaman para penagih utang (debt collector) pihak pinjaman online ilegal. Tidak hanya wajib waspada namun juga harus selalu teliti membaca semua peraturan atau syarat dan ketentuan yang tertera di aplikasi.

Selain itu cari dan telusuri informasi yang ada di website OJK, apakah perusahaan aplikasi penyedia pinjaman online itu sudah terdaftar di OJK ataukah belum. Sebab pinjaman online ilegal tak mengikuti ketentuan cara penagihan hutang ke nasabah dengan cara yang benar dan sesuai SOP yang sudah ditetapkan OJK. Karena jika Anda terjebak pinjol ilegal jika gagal bayar atau lalai dalam pembayaran maka resikonya adalah siap-siap hadapi teror dan ancaman pinjaman online ilegal ini setiap saat.

Berikut ini berbagai cara penagihan hutang pinjaman online ilegal yang meresahkan pengguna aplikasi pinjaman online ilegal, diantaranya :

  1. Intimidasi berupa SMS ke HP nasabah, lalu SMS disebar juga pada semua kontak di HP korban.
  2. Mulai ada teror panggilan telepon yang bertubi-tubi setiap hari
  3. Menghubungi semua keluarga, kerabat, teman, hingga atasan tempat kerja 
  4. Ada grup WhatsApp yang berisi keluarga, kerabat, teman, hingga atasan kerja nasabah untuk menyebar foto nasabah hingga foto-foto berbau pornografi di WA grup yang mereka buat tesebut.
  5. Ancaman harus menjual ginjal hingga pelecehan seksual untuk melunasi hutang pinjol mereka.
  6. Adanya Intimidasi dengan kata-kata caci maki penghinaan dan pelecehan

Serta masih banyak lagi bentuk teror dan ancaman serta intimidasi lainnya yang merugikan nasabah. Itulah cara dari debt collector pinjaman online ilegal untuk menagih hutang para nasabahnya. Dengan harapan teror itu bisa membuat nasabah malu dan segera melunasi hutangnya.

Teror Penagihan Fintech Ilegal ikut merusak Citra Fintech yang resmi

Tidak hanya para nasabah pengguna aplikasi pinjaman online yang mendapat perlakukan buruk hingga menimbulkan efek trauma bagi mereka. Cara teror penagihan yang dilakukan oleh fintech ilegal tersebut juga mencoreng nama baik fintech resmi yang terdaftar di OJK. Masyarakat menjadi trauma dan tidak percaya lagi pada perusahaan yang bernama fintech. 

Menurut Wakil Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Sunu Widyatmoko, mengatakan 73 perusahaan fintech pendanaan yang mendapat izin dari OJK tak memiliki cara penagihan seperti yang diberitakan. “Mereka itu adalah penyelenggara pinjaman online ilegal yang tidak terdaftar OJK dan bukan anggota asosiasi. 

Dalam ketentuan yang diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No.1/POJK.07/2013 tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan, berikut kode etik perusahaan pinjaman online dalam memperlakukan penagihan:

  1. Perusahaan aplikasi (pinjaman online) wajib mencantumkan seluruh biaya yang timbul dari pinjaman, termasuk biaya yang timbul di muka (pasal saat Pencairan pinjaman), bunga pinjaman, biaya asuransi, provisi, biaya keterlambatan, dan lainnya.
  2. Setiap pinjaman mempertimbangkan dan menyesuaikan ekonomi penerima pinjaman untuk pengembalian.
  3. Dilarang menagih hutang dengan kekerasan, baik fisik maupun mental, termasuk pelecehan dan merendahkan harga diri penerima pinjaman
  4. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengungkapkan, persekusi dan penyalahgunaan data pribadi pelanggan melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan Peraturan Menteri Kominfo No.20/2016 tentang Perlindungan Data Pribadi dalam Sistem Elektronik.

Tidak hanya itu Kemenkominfo juga mengingatkan agar calon nasabah untuk memilih aplikasi pinjaman online yang menjamin keamanan data pribadi pelanggan. Jangan pernah malas membaca syarat dan ketentuan yang berlaku sebelum mengunduh aplikasi pinjaman online tersebut.

Hukuman Untuk Fintech Pinjaman Online Ilegal

Sementara itu, hukuman bagi perusahaan fintech pinjaman online yang ilegal alias yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku, berdasarkan POJK Bo.77/2016 tentang Pengawasan Fintech Terdaftar di OJK, berikut hukuman yang harus diterima jika fintech melanggar aturan :

  1. Mengumumkan fintech pinjaman online (peer to peer Lending/P2P) ilegal ke publik
  2. Mengajukan blokir situs web dan aplikasi ke Kementerian Komunikasi dan Informatika
  3. Memutus akses keuangan dari fintech ilegal tersebut
  4. Meminta perbankan untuk menolak pembukaan rekening tanpa rekomendari OJK
  5. Meminta bank melakukan konfirmasi ke OJK untuk rekening existing yang diduga digunakan untuk kegiatan fintech ilegal
  6. Minta BI (Bank Indonesia) melarang fintech payment system memfasilitasi transaksi fintech ilegal
  7. Melaporkan fintech ilegal ke Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Polri untuk penegakan hukum

Namanya juga perusahaan pinjaman online (Fintech) abal-abal alias ilegal, tak ada jaminan segala bentuk operasional usahanya, termasuk cara menagih hutangpun tidak sesuai standar dan ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Akibat keberadaannya yang tidak diakui pihak OJK, sehingga semua kegiatan usaha perusahaan pinjaman online ilegal ini tidak diawasi. Tak heran bila sering terjadi perlakuan semena-mena pada para nasabahnya. 

Saat terlambat bayar tagihan atau bahkan belum mampu lunasi utang karena bunga tinggi dan denda, berbagai teror dan ancaman dilontarkan hingga hal-hal tak senonoh dihunjamkan ke nasabah. Takut dan bingung, bahkan ada yang berakhir mengenaskan.

Akibat bunga yang sangat tinggi misalnya, banyak peminjam yang tidak mampu membayar akhirnya frustasi, mereka kemudian berupaya menjual organ tubuh (ginjal) sampai pada upaya bunuh diri. 

Laporkan Jika merasa diintimidasi dan dan dilecehkan

Banyaknya kasus yang diterima, kini  LBH telah membuka pos pengaduan pinjol yang dilakukan secara online melalui situs resmi LBH Jakarta. Permasalahan-permasalahan yang merupakan temuan awal tersebut membawa dampak yang tidak ringan. Akibat penagihan ke nomor telepon yang ada di ponsel, peminjam menjadi di-PHK oleh perusahaan tempatnya bekerja, diceraikan oleh suami/istri mereka (karena menagih ke mertua), trauma (karena pengancaman, kata-kata kotor, dan pelecehan seksual).

Proses pengaduan dapat dilakukan dengan mengisi formulir di situs web LBH Jakarta, dengan menyertakan bukti-bukti terkait. Pembukaan pos pengaduan dilakukan untuk mengetahui lebih dalam tentang permasalahan-permasalahan terkait pinjaman online.

Atas pengaduan yang telah dibuat, para pengadu selanjutnya akan dihubungi oleh LBH Jakarta untuk menentukan langkah selanjutnya atas permasalahan-permasalahan yang ada.

Menanggapi hal itu, Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) sebagai asosiasi resmi bagi para penyelenggara layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi (fintech) memastikan perusahaan yang memiliki debt collector tersebut bukan bagian dari anggotanya.

Prosedur Pengaduan :

  1. Kumpulkan semua bukti teror, ancaman, intimidasi, atau pelecehan
  2. Datang ke kantor polisi terdekat
  3. Buat laporan tertulis di kantor polisi
  4. Adukan ke situs resmi OJK di https://konsumen.ojk.go.id/formulirpengaduan
  5. Melaporkan ke situs aduankonten.id, maupun melalui Twitter @aduankonten

Melakukan pinjaman di aplikasi online ilegal memang banyak resikonya, karena sebagai pihak pengelola pinjaman online ilegal, mereka pasti tidak akan mengikuti prosedur penagihan yang benar atau sesuai aturan. Oleh karena itu, sebelum mengunduh aplikasi pinjaman online dan mulai berhutang, harus mengecek legalitas perusahaan penyedia jasa kredit online ini serta perjanjian pinjaman harus dibaca sedetail mungkin, agar tidak terjebak bungan yang tinggi dan pencurian data nasabah melalui persetujuan akses nomer kontak di HP Anda. Semoga bermanfaat.

2 thoughts on “Efek Buruk Teror Fintech Ilegal & Imbas bagi Fintech Resmi

  1. Dulunya fintech resmi sama teror juga sudah rame ada berita bunuh diri dan ada asoosiasi fintech legal baru fintech legal berhenti teror

  2. Saya juga tiap hari ditelpon mulai pagi sampai tengah malam bahkan hari minggu juga ditelpon istri saya juga ditelpon tiap hari saya sampai sering bertengkar dg istri saya padahal saya tahu pasti saya bayar saya tidak akan melarikan diri dari tanggung jawab saya ,walaupun saya terlambat dlm pembayaran pasti saya bayar beserta bunganya dan sekarang saya sadar dan tidak akan pinjam lagi dinpinjaman online saya benar-benar tercebur dalam lubang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *