KISAH MENYEDIHKAN KORBAN PINJAMAN ONLINE ILEGAL

Posted on

Maraknya pinjaman online ilegal yang akhir-akhir ini meresahkan masyarakat memang bukan perkara mudah untuk diberantas. Terbukti pihak satgas OJK bekerjasama dengan Kemenkominfo telah menutup ratusan fintech ilegal. Namun bak jamur di musim hujan, keberadaan mereka malah makin banyak, bahkan ada yang hanya berganti nama. Mereka hadir kembali dengan modus yang berbeda-beda, ada yang masuk di komen-komen media sosial ada yang mengirim SMS menawarkan pinjaman serta meberikan link aplikasi agar dibuka dan diinstal oleh calon pengguna.

Para pinjol ilegal tersebut memanfaatkan masyarakat yang terdesak kebutuhan darurat, tanpa memikirkan bahwa pinjol tersebut memberikan pinjaman plus bunga yang tinggi. Ujung-ujungnya jika nasabah tidak mampu mengembalikan atau telat membayar selama 1 sampai 3 hari, maka siap-siap saja jika seluruh kontak di HP nasabah akan kena teror. Tujuan mereka dalah mempermalukan para nasabah, dengan harapan mereka akan segera membayar pinjaman tersebut. Sungguh miris banyak sekali masyarakat yang menjadi korban, contohnya saja beberapa kisah menyedihkan berikut ini yang menjadi korban pinjol :

  1. Seluruh Kontak yang ada di HP korban di Teror Pinjol Ilegal 

Kisah yang miris menimpa salah satu debitor asal Surabaya. Wanita yang kita sebut saja bernama Melati, adalah debitor yang telah meminjam pada 30 aplikasi perusahaan fintech. Dia bisa terjerat awalnya karena ingin menutup satu aplikasi pinjaman dengan nilai pinjaman Rp 1,5 juta.Karena terus ditagih, Melati akhirnya mendaftar ke aplikator lain untuk menutup utang yang terdahulu. Begitu seterusnya sampai sekarang dia punya utang di 37 aplikator pinjol. Total utangnya saat ini mencapai Rp 30-an juta.

Selain bunga yang membengkak, bahkan Melati juga harus malu dan mendapat intimidasi dari para penagih pinjol tersebut. Bahkan teror yang disebar oleh penagih utang melalui pesan pendek kepada telepon seluler teman-temannya karena belum membayar utang. Intimidasi dari para debt collector itu membuat Melati tidak tahan menanggung malu, akhirnya dia memutuskan keluar dari tempat kerjanya.Karena akibat teror dan intimidasi pada teman-temanya semua orang di lingkungannya tahu kalau Melati punya Hutang pinjol.

  1. Ingin Mengajukan Pinjaman malah tertipu Pinjol Ilegal

Kasus pinjaman online yang meresahkan ini, tidak hanya menimpa nasabah yang tidak mampu mengembalikan pinjaman, tetapi juga menimpa orang yang ingin mengajukan pinjaman namun justru malah tertipu. Kali ini yang menjadi korbannya adalah seorang warga Papua, dia tertipu Rp 10,5 juta pada bulan Juni 2019 lalu. Korban yang kita sebut saja bernama Kumbang, mengisahkan, awalnya ia mendapat pesan singkat dari sebuah nomor ponsel yang menawarkan pinjaman online dengan bunga 0,6 persen dari PT Bima Finance. Mendapat penawarkan pinjaman yang menggiurkan tersebut, dia pun tertarik dengan tawaran tersebut dan langsung menghubungi nomor tersebut, kemudian, ia diminta membuka situs www.kreditcepatcair.com yang berisi syarat-syarat kredit cepat.

Saat itu si pemilik nomor WA mengarahkan Kumbang  untuk mengurus internet banking di BRI dan mengunduh aplikasi AIRDROID dan akhirnya mendapatkan username dan password dari aplikasi tersebut. Setelah itu, Kumbang kembali login ke situs www.kreditcepatcair.com dan tak lama setelah itu ia mendapat SMS banking yang menginformasikan uangnya diambil secara otomatis senilai Rp 10,5 juta tanpa adanya transaksi ke nomor rekening BCA 7935391776. Tentu saja Kumbang kaget karena proses hilangnya uang dari rekening sangat cepat, tanpa menunggu lama, kemudian kumbang melaporkan tindakan penipuan itu ke Sentral Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Merauke, Papua.

  1. Bunuh diri Karena terjerat Pinjaman Online

Kisah menyedihkan akibat teror penagih pinjaman online tidak hanya menyerang melalui SMS dan telpon, tetapi juga mengintimidasi dengan ancaman sehingga akhirnya korban merasa depresi dan tertekan. Akibatnya seorang sopir taksi gantung diri karena terjerat hutang pinjaman online tersebut.  Korban adalah warga Jakarta Selatan, berinisial B berusia sekitar 35 tahun. Korban ditemukan tewas gantung diri di rumah kos di Jalan Prapatan VII, Tegal Parang, Jakarta Selatan.

Sebelum mengakhiri hidupnya, B sempat menulis surat yang ditujukan kepada pihak OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan juga pihak berwajib. Korban menuliskan permohonannya kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pihak berwajib untuk memberantas pihak-pihak yang memberikan pinjaman online. “Kepada OJK dan pihak berwajib tolong berantas pinjaman online yang telah membuat jebakan setan,” tulis B. Dalam suratnya tersebut, disebutkan bahwa B juga meminta maaf kepada Istri dan anak-anaknya yang ditinggalkan.

  1. Pelecehan sampai penyebaran foto 

Jeratan pinjaman online tidak hanya menyebabkan korban jiwa, bahkan pelecehan. Kasus pelecehan ini menimpa seorang wanita berusia 51 tahun sebut saja Bunga. Wanita ini adalah warga Solo, Jawa Tengah, yang fotonya disebar dan disebut bersedia “digilir” untuk membayar pinjaman online. Hanya karena menunggak pinjaman dua hari, pihak penagih pinjaman online ilegal ini sampai mengiklankan foto Ibu Bunga, bahkanfoto dirinya disebar di media sosial. Dalam poster itu dituliskan bahwa dirinya “siap digilir” untuk melunasi pinjaman sebesar Rp 1.054.000 pada aplikasi fintech ilegal.

Menurut Ibu Bunga, padahal dia sempat memberikan informasi pada pihak pinjaman online bahwa saat jatuh tempo, dirinya belum bisa membayar pinjaman. Ibu Bunga  tidak menyangka fotonya terpampang di poster yang dikirim pihak pinjaman online yang tersebar di grup WhatsApp. Ibu Bunga  mengaku mengajukan pinjaman sebesar Rp 1 juta, tetapi dirinya hanya menerima Rp 680.000. Ia juga diharuskan mengembalikan Rp 1.054.000 dalam jangka waktu seminggu.

Para Korban Pinjaman Online Mengadukan Nasibnya melalui pengacara

Berdasarkan keterangan dari seorang pengacara yang ikut mendampingi 25 orang yang terjerat utang melalui pinjaman online, menyebutka bahwa  dari sejumlah kasus yang ada, para debitor diketahui tak hanya terbelit oleh tingginya bunga pinjaman. Karena realisasinya pinjaman yang diterima oleh debitor dibawah yang diajukan. Tetapi total nilai pinjaman yang harus dikembalikan lebih dari nilai pinjaman plus bunga hanya dalam tempo 7 hari.

Memang aplikasi pinjaman online, memberi kemudahan pemberian hutang karena salah satunya tanpa disertai syarat jaminan atau agunan. Selain itu promosi ini juga gencar disebar melalui media sosial seperti Facebook, Instagram, dan lain sebagainya.

Dalam proses pemberian pinjaman tidak ada masalah hukum yang melindunginya. Namun masalah baru muncul ketika peminjam tidak bisa membayar sesuai jatuh tempo.

Perusahaan dari aplikasi pinjaman online itu mengerahkan penagih utang, sepertinya tanpa pendidikan dan etika, sehingga mereka menagih dengan tidak manusiawi yaitu dengan cara meneror dengan kata-kata tidak senonoh melalui pesan pendek di telepon seluler maupun media sosial.

Lebih tidak ada etikanya adalah ketika penagih hutang ini tidak hanya meneror ke nomor telepon seluler peminjam yang terlilit utang, melainkan juga ditujukan kepada nomor telepon seluler para kerabatnya. Lebih parah lagi, para penagih hutang bisa melihat data-data yang tersimpan di dalam telepon seluler para debitor atau nasabahnya. Mereka bisa melihat nomor telepon mana saja milik para kerabat debitur bermasalah yang sering dihubungi dan kemudian menghubunginya satu persatu dengan menebar kata-kata tidak senonoh yang menjelekkan.

Harus ada UU yang mengatur Layanan Fintech khususnya pinjaman online

Meskipun kehadiran Fintech sendiri memang merupakan salah satu inovasi keuangan baru yang cukup memudahkan para pengguna. Dimana saat ini terus berkembang pesat. Namun demikian juga Fintech juga menimbulkan keresahan bagi masyarakat akibat timbulnya kejahatan jenis baru yang menggunakan aplikasi Fintech.

Oleh karena itu Ketua Satuan Tugas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Tongam L. Tobing, mengatakan perlu ada undang-undang yang mengatur mengenai layanan Fintech khususnya pinjaman online. DImana ada pasal yang mengatur perihal kegiatan fintech, sehingga jika ada Fintech yang tidak memiliki izin dan tidak terdaftar di OJK, akan masuk dalam tindak pidana. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *