CARA KERJA SISTEM APLIKASI PINJAMAN ONLINE

Posted on

Akhir-akhir ini marak keluhan yang menyebutkan aplikasi pinjaman online atau fintech peer to peer lending mencuri data kontak nasabah. Hal tersebut dinilai merugikan karena aplikator bahkan bisa mengakses semua nomor kontak yang ada di telepon genggam si peminjam. Wakil Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia (AFPI), Sunu Widyatmoko mengakui bahwa fintech mempunyai kemampuan untuk mengakses data kontak pengguna aplikasi. Tidak hanya daftar kontak, namun juga daftar panggilan masuk maupun panggilan keluar.

Ilustrasi by Pixabay

Dia Juga menjelaskan bahwa dengan akses tersebut pihak aplikator dapat melakukan verifikasi apakah orang tersebut layak mendapat pinjaman atau tidak. Karena tidak bisa dihindari bahwa banyak juga konsumen yang nakal, dan sengaja dari awal berniat jahat dengan cara melakukan peminjaman kemudian tidak membayarnya. Awalnya pihak fintech bersikukuh bahwa tujuan mereka ingin mengakses karena itu merupakan bagian dari credit scoring untuk melakukan verifikasi apakah orang ini layak atau tidak. Karena ada orang yang dia beli handphone baru, simcard baru isinya kosong dia bisa pinjem karena dia niatnya tidak mau membayar pinjaman.

OJK & Kemenkominfo Melarang Akses Data Pengguna Aplikasi Fintech

Namun sekitar sebulan yang lalu pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK)  bersama Kemenkominfo mengeluarkan aturan yang menyatakan fintech dilarang untuk mengakses data tersebut sebab dinilai lebih banyak mudharatnya dibanding manfaatnya. Apalagi dengan semakin  maraknya Fintech ilegal yang menyalahgunakan kemampuan akses data tersebut.

Dalam aturan itu pihak OJK melalui kominfo sudah melarang seluruh fintech peer to peer lending untuk mengakses data contact list. Sebagian besar pihak Fintech melalui perwakilan  asosiasi menerima aturan tersebut dengan lapang dada meski sebetulnya hal tersebut sedikit memberatkan bagi mereka. “Bahwa contact list dilarang kita bisa terima. Meskipun dibilang itu memberatkan. Tapi itu sesuatu yang harus kita lalui. Jadi sebetulnya regulator, pelaku industri kita berusaha memperbaiki diri untuk membentuk suatu industri yang sehat dan kuat. Nah kalau masalahnya adalah fintech ilegal, itu masalah kita semua. Kenapa masalah kita semua? Kita harus mengedukasi seluruh masyarakat untuk menghindari pengguna fintech ilegal. Namanya ilegal, hak-hak anda sebagai pengguna tidak didukung. Tidak dilindungi oleh undang-undang. Siapa orang ilegal? Orang dia aja dia gak terdaftar,” tutupnya.

Bagaimana Cara Kerja Sistem Aplikasi Pinjaman Online 

Saat ini sudah sangat banyak aplikasi pinjaman online (pinjol) yang diluncurkan di Google Play Store, bahkan mereka mengirim link khusus berupa SMS ke nomor yang dituju dengan bahasa marketing yang menjanjikan karena aplikasi mereka tidak dapat diakses oleh Google Play Store. Beberapa perusahaan fintech ilegal memiliki beberapa aplikasi yang sama dengan nama yang berbeda.

Bahkan diantaranya ketika korban mengunggah aplikasi A (dalam tahap pengajuan, proses verifikasi atau pembayaran pelunasan dan atau perpanjangan) kemudian mengunggah aplikasi B akan diminta nomor telepon yang didaftarkan untuk verifikasi berupa SMS OTP (one time password). Setelah verifikasi akan muncul notifikasi (status: dalam proses pengajuan, ditolak, tidak dapat mengajukan selama 7 – 30 hari kedepan, atau pelunasan).

Memakai Teknologi

Teknologi dimanfaatkan oleh pinjaman online berbasis Fintech untuk proses penagihan misalnya saja SMS, email dan voice call sebagai pengingat ke para nasabah. Penggunaan teknologi inilah yang akhirnya membedakan cara di Fintech menangani nasabah kredit macet dengan bank dan perusahaan Finance pada umumnya.

Salah satu informasi yang digunakan Fintech adalah memanfaatkan aplikasi pinjaman online yang diunduh oleh peminjam. Dalam aplikasi ada banyak informasi yang bisa ditarik dan di analisis untuk menentukan tindakan dalam penagihan. Salah satunya adalah aplikasi yang diunduh bisa membantu Fintech dalam mengingatkan nasabah soal pinjaman yang sudah jatuh tempo.

Mengakses Data Telpon via Aplikasi

Proses penagihan yang tidak sesuai aturan yang dilakukan oleh fintech ilegal yaitu melalui media aplikasi yang harus diunduh oleh calon nasabah. Dengan alasan untuk memudah proses pengajuan dan pencairan ketika mendapatkan pinjaman, ternyata akses kontak yang berhasil didapatkan oleh fintech itu digunakan juga untuk keperluan penagihan. Bahkan salah satunya adalah penagihan kepada keluarga, teman kerja atau pihak lain, yang kontaknya tercatat dalam telpon nasabah yang mengambil pinjaman dan menunggak.

Mekanisme & cara mereka masuk ke perangkat seluler calon nasabah

Minta Izin akses perangkat,lokasi, kontak,sms,telepon dan galeri.

Minta Otorisasi aplikasi mereka untuk diaktifkan (aksesibilitas).

Minta izin otorisasi Gmail akun, semua perangkat Android menggunakan Gmail akun.

Otorisasi media sosial: Facebook,twitter, Instagram, dll.

Otorisasi ecommerce akun: Shopee, Tokopedia, Bukalapak, Lazada, dll.

Otorisasi WhatsApp untuk diaktifkan dengan membuka aksesibilitas di perangkat.

Otorisasi media perjalan online: Gojek dan Grab.

Otorisasi Rekening Bank: CIMB Niaga Clicks, klikBCA, BPJS dll

Diminta mengunduh sebuah aplikasi: Backup master ( biasanya link ini dikirim melalui SMS dengan bahasa “Selamat pengajuan anda telah diajukan, mohon unduh link ini  dan ikuti perintah untuk mempercepat proses verifikasi”.

Diminta masuk ke Face identifier (photo wajah, foto KTP, foto dengan KTP, perekaman suara) dengan alasan syarat dicairkannya pinjaman

Intinya mereka akan selalu mengupdate aplikasi mereka untuk akurasi data nasabah. Semua aplikasi pinjamanan online selalu menggunakan logo OJK (terdaftar), semua perusahaan tertulis terdaftar. Ingat semua perusahaan jasa keuangan ketika dalam proses pengajuan adalah TERDAFTAR tetapi kita tidak tahu apakah mereka lolos verifikasi atau tidak. Lebih baik pastikan yang “BERIZIN dari OJK” bukan “TERDAFTAR” saja statusnya di OJK.

Agar Anda tidak terjebak Fintech Ilegal kenali perbedaanya dengan Fintech Legal

Ciri-ciri Fintech ilegal:

  1. Tidak memiliki izin resmi
  2. Tidak ada identitas dan alamat kantor yang jelas
  3. Pemberian pinjaman sangat mudah
  4. Informasi bunga dan denda tidak jelas
  5. Bunga tidak terbatas
  6. Denda tidak terbatas
  7. Penagihan tidak mengenal waktu
  8. Akses ke seluruh data yang ada di ponsel
  9. Ancaman teror kekerasan, penghinaan, pencemaran nama baik, menyebarkan foto/video pribadi
  10. Tidak ada layanan pengaduan

Berikut ciri-ciri Fintech Legal

  1. Terdaftar dan diawasi OJK.
  2. Berikut adalah daftar Penyelenggara Pinjol Terdaftar dan Berizin di OJK per 31 Mei 2019, yang dijamin diawasi secara khusus oleh pemerintah.
  3. Identitas pengurus dan alamat terlampir jelas
  4. Pemberian pinjaman diseleksi ketat
  5. Informasi biaya pinjaman dan denda transparan
  6. Total biaya pinjaman 0,05 persen sampai 0,8 persen per hari
  7. Maksimum pengembalian (termasuk cancel) 100 persen dari pinjaman pokok
  8. Penagihan maksimum 90 hari
  9. Akses data ponsel hanya kamera, microphone, dan location.
  10. Memiliki layanan pengaduan konsumen
  11. Risiko peminjam yang tidak melunasi setelah batas waktu 90 hari akan masuk ke dalam daftar hitam Pusat Data Fintech Lending (Pusdafil).

Fintech ilegal memang meresahkan akhir-akhir ini dengan segala kemudahan dan teknologinya, mereka memanfaatkan masyarakat yang sedang membutuhkan dana darurat untuk memberikan pinjaman dengan bunga yang tinggi dan cara penagihan yang kadang kurang manusiawi ketika nasabah terjerat kredit macet. Disinilah perlunya edukasi bagi masyarakat agar lebih teliti, caranya dengan sering membuka informasi daftar Fintech Legal di website OJK dan banyak melihat review dari para korban pinjol ilegal.

Sebaiknya Anda tetap berhati-hati dari bentuk penawaran via SMS ataupun Media Sosial, meski Anda sedang terdesak kebutuhan. Semoga informasi ini membantu Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *