PERKEMBANGAN BISNIS PINJAMAN ONLINE DI INDONESIA

Posted on

Makin pesatnya pertumbuhan Financial Technologi atau lebih kita kenal dengan Fintech, ternyata mampu ikut mempengaruhi bidang keuangan di Indonesia. Terutama inovasi di bidang pinjaman tanpa agunan yang di dunia perbankan dikenal dengan produk Kredit Tanpa Agunan. Hal itu menyebabkan lahirnya inovasi dalam layanan keuangan berbasis teknologi informasi yang biasa disebut dengan financial technology atau fintech.

Kehadiran Fintech atau singkatan dari Financial Technologi memiliki arti sebuah inovasi dan teknologi di dalam bidang jasa keuangan. Fintech dapat mempengaruhi kebiasaan transaksi masyarakat menjadi lebih praktis dan efektif. Fintech juga dapat membantu masyarakat untuk lebih mudah mendapatkan akses terhadap produk keuangan dan meningkatkan literasi keuangan.

Fintech, Industri Digital Yang Sedang Berkembang Pesat

Dimulai sejak tahun 2006 pengguna fintech telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, terbukti 10 tahun kemudian kenaikannya mencapai 78 % dari hanya 7 % saja. Jumlah pengguna tercatat sebanyak 135-140 perusahaan, terdiri dari 43% pada sektor pembayaran, seperti mobile payment, pinjaman online atau peer to peer lending, perencanaan keuangan (personal finance), investasi ritel, pembiayaan (crowdfunding), remitansi, hingga riset keuangan. Menariknya lagi ternyata dalam perkembangannya, hanya sebanyak 20 perusahaan asing yang berpartisipasi untuk berinvestasi pada fintech, baik lokal maupun startup asing.

Perkembangan fintech di Indonesia sendiri bisa dibilang sangat subur, bahkan pada tahun 2017 industri fintech Indonesia memiliki nilai transaksi sebesar US$15,02 miliar (Rp202,77 triliun) tumbuh 24,6% dari tahun sebelumnya. Kenaikan nilai transaksi tersebut imbas dari perkembangan fintech di Indonesia yang telah merambah ke berbagai sektor, mulai dari startup pembayaran, pinjaman online, perencanaan keuangan (personal finance), investasi ritel, pembiayaan (crowdfunding), remitansi, riset keuangan, dan lain-lain.

Untuk mem back up perkembangan fintech yang kian pesat agar tidak terjadi penyalahgunaan per ijinan, Otoritas Jasa Keuangan atau OJK telah mengeluarkan peraturan terkait teknologi finansial alias fintech. Nomor 13/POJK.02/2018 tentang Inovasi Keuangan Digital di Sektor Jasa Keuangan, yang dikeluarkan sebagai ketentuan untuk memayungi pengawasan dan pengaturan industri fintech dimasa depan.

“Peraturan ini dikeluarkan OJK mengingat cepatnya kemajuan teknologi di industri keuangan digital yang tidak dapat diabaikan dan perlu dikelola agar dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso seperti dikutip dari situs OJK.

Sebelumnya OJK telah mengeluarkan peraturan mengenai fintech peer to peer lending melalui POJK 77/POJK.01/2016 Tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi.

4 faktor penyebab makin pesatnya perkembangan Fintech di Indonesia 

  1. Bidang Keuangan Dimudahkan dengan adanya Fintech 

Keberadaan Fintech di bidang pinjaman online, menawarkan kemudahan dan akses yang cepat bagi masyarakat yang membutuhkan fasilitas pinjaman cepat tanpa agunan serta fasilitas pembayaran belanja online dan promosi yang belum terjangkau produk keuangan konvensional atau bank. Sehingga tidak perlu lagi menghadapi kemacetan dan kesulitan saat pengajuan pinjaman atau mengurus pembayaran. Wajar saja kalau saat ini Fintech yang identik dengan internet dan teknologi, sangat dekat dengan kalangan generasi milenial. Karena memang mereka familiar dengan internet dan mereka sangat bergantung dengan akses internet dalam kehidupan sehari-harinya. 

  • Memudahkan Para Pebisnis Kecil

Saat ini ada sekitar 63 juta pengusaha kecil atau UKM yang membutuhkan modal. Sebanyak 74 persen yang tidak mempunyai akses pada permodalan. Selain itu adanya  kesenjangan dalam permodalan di mana bank meminta persyaratan aset yang dimiliki sebagai jaminan bagi usaha kecil yang akan mengajukan pinjaman, sementara mereka tidak mempunyai modal.

Padahal bayak UKM yang sangat membutuhkan modal dalam waktu cepat, sedangkan produk pinjaman bank membutuhkan waktu 1-3 bulan untuk menyetujui atau tidak menyetujui kredit. Akhirnya Peer to Peer Lending menjadi solusi bagi mereka yang membutuhkan modal cepat namun tidak mempunyai aset.

  • Teknologi Menunjang Inovasi

Teknologi yang serba canggih dan pesatnya inovasi digital, membuat para startup berlomba-lomba berinovasi untuk menarik para konsumen. Apalagi saat ini masyarakat sudah mulai terbiasa dengan sentuhan jempol saja alias tinggal buka gadget atau Smartphone pintarnya sudah bisa berselancar di dunia internet dan melakukan transaksi via online. 

Untuk mengimbangi hal tersebut, seharusnya perusahaan fintech melakukan inovasi secara terus menerus. Mereka segera membuat terobosan baru setiap melihat permasalahan keuangan yang menghambat transaksi atau aplikasi yang sudah mulai ketinggalan jaman.  

  • Bisnis Fintech Lebih Menjanjikan

Bisnis pinjaman online sangat menjanjikan dengan pasar yang besar.

Industri fintech dianggap lebih fleksibel dan tidak kaku dibandngkan dengan bisnis keungan konvensional karena masih sedikit peraturan yang mengatur industri satu ini. karena itulah fintech menjadi lahan yang tepat bagi pebisnis muda.

Nasabah bisa langsung meminjam melalui telepon genggam miliknya pada sejumlah perusahaan pinjaman online. Kemudahan tersebut membuat bisnis pinjaman online (fintech) berkembang pesat.

Kehadiran Fintech Menjadi tantangan Lembaga keuangan Konvensional

Saat ini Financial Technology (Fintech) telah membantu masyarakat untuk mendapatkan layanan keuangan dengan mudah dan cepat. Seiring berjalannya waktu, fintech semakin merambah ke banyak sektor keuangan. Selain itu pesatnya teknologi mendorong makin berinovasinya industri fintech hingga perdagangan berbasis elektronik (e-commerce). Akhirnya tidak bisa dipungkiri keberadaan aplikasi fintech menjadi alternatif bagi kemudahan transaksi keuangan untuk masyarakat ketimbang lembaga keuangan lainnya. 

Sayangnya meskipun bisnis fintech makin pesat dan cukup menjanjikan di masa depan, ternyata cukup menjadi kekhawatiran bagi lembaga keuangan konvensional, atau mungkin bahkan  mengancam perkembangan lembaga keuangan konvensional jika mereka tidak segera mengejar ketinggalan dengan inovasi yang setara atau selangkah lebih maju. 

Seperti yang sudah dilakukan oleh beberapa Bank di Indonesia berikut ini :

  1. Bank Mandiri

Perbankan berupaya meningkatkan pelayanannya lewat pengembangan perbankan digital sebagai strategi bersaing dengan layanan financial technology. Hal ini antara lain dilakukan oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Kerjasama yang dilakukan oleh Bank Mandiri adalah pada dua platform belanja online yang sudah terkenal yaitu dua platform jual beli online yang sudah dijajaki Bank Mandiri untuk pemberian kredit modal kerja, yakni Bukalapak dan Tokopedia.

     2. Bank BRI

Bank pelat merah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. salah satunya, yang meluncurkan Aplikasi pinjaman online Pinang lewat anak usahanya BRI Agro, untuk menjangkau kebutuhan nasabah yang belum masuk dalam rentang kredit mikro.

Aplikasi Pinang yang sudah diluncurkan akhir Februari lalu, memiliki plafon setara dengan layanan P2P milik fintech yakni mulai dari Rp 500.000 hingga Rp 20 juta dengan tenor 1-12 bulan. Adapun suku bunga yang dipatok sebesar 1,24% per bulan. Namun saat ini layanan Pinang baru dinikmati oleh nasabah payroll BRI Agro dan induk, dan diharapkan pada 2020 dapat menjangkau non nasabah.

      3. Bank DBS

Sama halnya dengan bank plat merah seperti BRI, PT Bank DBS Indonesia juga menyediakan fitur pengajuan KTA dalam jaringan. Perseroan sudah melakukan uji coba pinjaman KTA Online sejak November 2018 dan tetap menerapkan BI checking kepada calon debitur.

Managing Director, Head of Digital Banking, PT Bank DBS Indonesia Leonardo Koesmanto mengatakan bahwa sebagai bank digital, perusahaan tentu ikut bermain dalam ceruk pasar pinjaman dalam jaringan. Segmen ini terbilang menarik karena masih dalam fase berkembang di Indonesia.

     4. Bank BNI

Sementara itu PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. juga tengah melihat peluang untuk meluncurkan produk pinjaman dalam jaringan. Menurut General Manager IT Solutions & Security System Division BNI Muhammad Faisal Jazuli mengatakan bahwa perusahaan telah menggandeng setidaknya 14—15 teknologi financial atau fintech yang bergerak pada bidang jasa, payment system atau sistem pembayaran, dan Lending atau Pinjaman.

Kesimpulannya 

Untuk itu kehadiran fintech di bidang jasa keuangan dan perbankan jangan dijadikan momok yang mengerikan tetapi justru Bank dan fintech harus berkolaborasi karena kebutuhan untuk meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia sangat besar. 

Bahkan dengan jumlah masyarakat Indonesia yang berada di 17 ribu pulau sangat sulit dijangkau tanpa adanya teknologi yang mumpuni, untuk itu sangat diperlukan adanya kolaborasi antara fintech dan perbankan. Semoga informasi ini bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *