PINJAMAN ONLINE SYARIAH SEPERTI APA ?

Posted on

Saat ini jaman sudah semakin maju, sehingga tidak mengherankan jika bisnis keuangan pun berkembang sangat cepat. Tidak lagi memakai konsep manual tetapi sudah beradaptasi dengan konsep digital. Salah satunya adalah fintech atau financial technologi yang dikenal dengan pinjaman online. Namun seiring kebutuhan masyarakat, fintech pun mulai melebarkan sayapnya, yang tadinya hanya bersifat konvensional kini berinovasi dengan konsep syariah atau bisnis keuangan tanpa riba.

Banyaknya minat masyarakat mengajukan pinjaman pada pinjaman online berbasis syariah, semakin memantapkan peluang fintech syariah menawarkan produk-produk pinjaman tanpa riba sehingga masyarakat memiliki banyak pilihan pinjaman sesuai dengan kebutuhan mereka. Mengingat antusiasme masyarakat yang begitu besar untuk mengajukan pinjaman pada Pinjaman Online Syariah, lalu seperti apa sih, platform pinjaman syariah tersebut ? dan kelebihannya apa saja ? semoga penjelasan berikut bisa membantu Anda.

Apa itu Pinjaman Online Syariah ?

Jika dilihat artinya secara sederhana Pinjaman Online Syariah adalah proses peminjaman uang yang tidak berlawanan dengan syariat Islam, dan juga bebas riba. Hal inilah yang membedakan antara pinjaman online syariah dan pinjaman online pada umumnya, dan pada Pinjaman Online Syariah memiliki konsep yang benar-benar Syariah.

  • Pinjaman Tanpa Riba/Tanpa Bunga

Sudah pasti melakukan pinjaman dana di bank syariah atau lembaga sejenis sudah dijamin kualitas halalnya. Ini adalah tanggapan dari sebagian orang yang merasa sensitif atau enggan meminjam di bank konvensional karena di dalam pinjamannya menerapkan sistem bunga yang diharamkan dalam Islam. Jika Anda salah satunya, maka melakukan peminjaman dana di bank syariah bisa menjadi solusi yang tepat.

Perbedaan lainnya fintech syariah dengan fintech konvensional yaitu tidak adanya bunga yang dikenakan terhadap jumlah pinjaman yang diberikan melainkan menggunakan sistem bagi hasil dan bagi resiko. Selain itu, fintech syariah cenderung memberikan pendanaan ke sektor riil dimana dampak sosial yang ingin dihasilkan bukan hanya sekadar mencari keuntungan, tetapi untuk membantu pelaku usaha untuk bisa “naik kelas” dan berhasil dengan usahanya sehingga dapat memiliki penghidupan yang lebih baik.

Perbedaan antara fintech Syariah dan konvensional adalah pada hal bunga. Dalam aturan fintech Syariah, bunga tidak sesuai dengan agama Islam dikarenakan mengandung unsur riba. Jadi, Anda tidak akan menjumpai kredit dalam pembiayaan fintech berbasis Syariah.

  • Fasilitas yang sama dengan Lembaga Keuangan konvensional: 

Fasilitas yang ditawarkan oleh bank syariah atau lembaga syariah ini juga tak kalah menarik dan juga lengkap dibandingkan dengan bank konvensional. Bisa dikatakan hampir semua bank syariah di Indonesia memiliki fasilitas yang memudahkan nasabahnya dalam hal bertransaksi. Misalnya Anda akan menemukan kemudahan dalam pembayaran cicilan, fitur internet banking, dan lain sebagainya.

  • Otomatis ikut Penyaluran Zakat

Selain sistem peminjaman yang berbeda antara pinjaman tanpa agunan dan kredit bank syariah, pada kredit bank syariah nasabah bisa sambil menyalurkan zakat. Bank syariah sangatlah memperhatikan zakat, jika nasabah mengambil sebuah kredit usaha, bank akan mengalokasikan 2,5% keuntungan usaha nasabah untuk disalurkan pada zakat. Jika pada pinjaman tanpa agunan, tidak ada ketentuan atau sistem yang memungkinkan nasabah untuk menyalurkan zakat atau mengurus penyaluran zakat.

  • Status dalam Hukum Agama Halal

Pinjaman tanpa agunan jika dilihat melalui hukum Islam, tentu akan dinilai sebagai sesuatu yang haram, karena pada pinjaman tanpa agunan mengandung riba. Riba tersebut bisa dilihat dari adanya bunga pinjaman yang sering kali memberatkan nasabah. Berbeda halnya dengan kredit bank syariah, dimana pada sistem kreditnya terdapat perjanjian tertulis antara bank dan nasabah yang berisi tentang penggunaan uang yang dipinjam oleh nasabah, penggunaan uang tersebut tentu harus di alokasikan untuk sesuatu yang tidak menyimpang dari hukum agama Islam atau bisa dibilang halal.

  • Tanggungan Risiko bersama

Pada pinjaman tanpa agunan seperti KTA atau pinjaman online, pihak debitur cenderung tidak mau mengambil risiko kredit macet jika nasabah tidak dapat membayar cicilannya.  Oleh karena itu, nilai bunga yang diberikan juga tinggi dan syaratnya cukup banyak.

Lain halnya dengan Pinjaman online syariah, dimana Pinjaman online syariah selaku kreditur juga ikut menanggung risiko jika nasabah terlambat atau dinilai tidak bisa melunasi cicilan. Contohnya saja, pada sistem kredit untuk modal usaha. Apabila nasabah tidak bisa membayar cicilannya, maka Pinjaman online syariah ikut menanggung risiko karena sebelumnya nasabah dan pihak debitur syariah telah berbagi jumlah modal yang dikeluarkan. Namun jika usaha yang dilakukan nasabah berhasil, tentunya debitur syariah juga harus mendapatkan bagi hasil yang lebih besar dari nasabah, karena sistem kredit yang diterapkan adalah sistem kerjasama dan kemitraan.

  • Pinjaman Online Syariah menggunakan syariat Islam 

Sebagai dasar layanan keuangan, terdapat beberapa prinsip syariah yang harus dimiliki fintech syariah ini, yaitu tidak boleh maisir (bertaruh), gharar (ketidakpastian), dan riba (jumlah bunga melewati ketetapan).

Dalam proses kerjanya, fintech syariah mengacu pada akad mudharabah dan musyarakah. Akad Mudharabah merupakan teknik kerja sama antara pemilik modal dan pengelola dana. Kedua pihak tersebut berkompromi untuk menentukan besaran keuntungan yang akan dibagi secara adil.

Apabila ada kerugian, pemilik modal harus bertanggung jawab kecuali keteledoran yang dilakukan oleh pihak pengelola dana. Sedangkan akad musyarakah merupakan teknik kerjasama antara dua orang atau lebih yang mana berdasarkan pembagian keuntungan yang rata. Apabila ada kerugian, kedua belah pihak harus menanggung beban kerugian yang sama pula.

Penjelasan Cara Akad Kredit syariah

Pembiayaan pada fintech Syariah akan dilakukan berdasarkan Akad Murabahah, Akad Ijarah Wa Iqtina, dan Akad Musyarakah Mutanaqishah.

Ketiga akad tersebut memang memiliki peraturan yang berbeda-beda. Namun, ketiga akad tersebut tidak mengandung bunga yang lebih besar.

  • Akad Murabahah adalah akad jual beli di mana fintech Syariah menjadi seorang pembeli atas produk yang diinginkan nasabah. Kemudian, peminjam akan menjual produk tersebut kepada nasabah dengan jumlah keuntungan yang sudah disetujui sebelumnya.
  • Akad Ijarah Wa Iqtina adalah akad sewa. Seperti Akad Murabahah, pada Akad Ijarah Wa Iqtina penyelanggara fintech Syariah menjadi pembeli atas barang yang diinginkan oleh nasabah. Kemudian peminjam akan menyewakan barang tersebut yang di kemudian hari dapat dibeli oleh nasabah. Barang tersebut terdapat dalam status sewa dengan kurun waktu tertentu sampai berpindah kepemilikan.
  • Sedangkan Akad Musyarakah Mutanaqishah adalah program pembiayaan yang berasal dari penyelenggara fintech dan nasabah. Masing-masing akan memberikan modal untuk produk tertentu. Nantinya, nasabah dapat membeli bagian yang dimiliki oleh penyelenggara fintech Syariah. Jadi, nasabah dapat memiliki hak penuh atas kepemilikan produk tersebut.

Peran Fintech Syariah bagi usaha Mikro Kecil Menengah

Peran fintech syariah bagi Usaha Mikro Kecil sangat memegang peranan penting, karena turut andil menunjang perkembangan bisnis kecil atau baru berkembang Menengah Dengan adanya fintech Syariah di Indonesia juga turut menunjang UMKM yang ada di Indonesia. Berikut peran fintech Syariah bagi UMKM di Indonesia, yaitu:

  • Memberikan Pinjaman Modal yang Relatif Mudah

Jika dibandingkan dengan pinjaman modal ke lembaga keuangan konvensional, maka dapat dikatakan bahwa peminjaman modal melalui fintech lebih mudah. Hal ini dikarenakan fintech hanya memerlukan peminjam untuk melengkapi beberapa dokumen saja. Selain itu, waktu pencairan dana juga lebih cepat dari pada lembaga konvensional. Tapi, pada beberapa lembaga konvensional kini sudah tersedia layanan online yang mempercepat peminjaman modal.

  • Menyediakan Layanan Pembayaran Digital

Proses pembayaran dapat lebih mudah dan cepat dengan layanan pembayaran digital.

Jadi, tanpa harus repot menarik uang di ATM, maka Anda sudah bisa melakukan pembayaran terhadap produk yang Anda beli atau jasa yang Anda pakai hanya dengan menggunakan aplikasi fintech.

  • Menyediakan Layanan Pengaturan Keuangan

Layanan pengaturan keuangan merupakan salah satu peran fintech yang paling penting.

Layanan pengaturan keuangan yang ditawarkan adalah seperti pencatatan pengeluaran, pemantauan kinerja investasi, serta konsultasi keuangan secara gratis.

Tentunya bagi UMKM yang baru saja merintis maka layanan-layanan tersebut dapat sangat membantu keuangan UMKM.

Nah, setelah mengetahui apa itu fintech Syariah, tantangannya, serta perannya terhadap UMKM di Indonesia. Tentunya  Anda sekarang sudah semakin mengenal apa itu fintech Syariah dan apa konsep yang diterapkan. Dengan kehadiran Fintech Syariah dapat semakin menunjang perekonomian di Indonesia. Jadi sebagai masyarakat Indonesia kita harus turut serta berkontribusi dalam memajukan perekonomian di Indonesia melalui Fintech Syariah.

Masing-masing jenis pinjaman mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, tergantung yang mana yang dinilai lebih menguntungkan oleh Anda sebagai nasabah.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *